Kamis, 14 Oktober 2010

PEMERATAAN PENDIDIKAN SOLUSI SEGALA BIDANG

Pendidikan, siapa yang tidak membutuhkannya? Pendidikan menjadi kebutuhan terpenting dalam hidup bermasyarakat. Setiap orang tua berusaha menyekolahkan anak mereka kedalam pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan melebihi pendidikan orang tuanya.

Dari fenomena tersebut, tidak mengherankan seorang anak harus bersekolah di tempat yang jauh dari tempat tinggal. Terasa kebanggaan dari seorang anak yang bersekolah bila mampu bersekolah di tempat yang menjadi favoritnya. Status dan martabat seseorang pun dapat terangkat dengan bersekolah di tempat yang berkualitas baik. Orang tua yang memilih sekolah tertentu, dikarenakan beberapa hal. Sebut saja lulusan yang mampu meraih prestasi tertinggi dalam karier (masa depan), akreditas, fasilitas, biaya, dan lokasi.

Namun, karena sekolah favorit hanya terdapat di daerah tertentu. Bahkan, jauh dari tempat tinggal. Mengakibatkan siswa/i harus berangkat menggunakan kendaraan, baik kendaraan pribadi dengan sedikit presentase (karena belum mempunyai Surat Ijin Mengemudi (SIM)), dihantar oleh orang tua melalui kendaraan dengan presentase yang cukup banyak, ataupun menggunakan kendaraan umum dengan presentase lebih banyak lagi.

Hal tersebut dianggap oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota DKI Jakarta, sebagai permasalahan baru. Sehingga apa yang dilakukan oleh Pemda DKI, dalam menghadapi permasalahan tersebut? Pembagian jam berangkat dan pulang, termasuk juga yang diterapkan oleh pelajar dianggap solusi tepat.

Sungguh ironis, disatu sisi alasan pemajuan jam sekolah dijadikan alasan untuk meningkatkan kualitas sekolah. Terlalu sulit untuk dihitung dengan logika, oleh kacamata orang awam.

Sempat terpikir dalam benak pikiran. Apakah tidak ada pemecahan jalan lain? Kenapa tidak dicoba untuk memecah pemusatan siswa/i berkumpul di satu sekolah? Atau, dilakukan dengan usaha agar siswa/i mau bersekolah di tempat yang lebih dekat dengan tempat tinggal? Tentunya kualitas yang sama baik, mampu secara finansial, dan fasilitas yang baik pula membuat siswa/i tidak ragu untuk pergi ke sekolah dekat tempat tinggal. Lebih tepatnya PEMERATAAN PENDIDIKAN.

Terlebih Jakarta sebagai Ibukota seharusnya dijadikan barometer bagi daerah-daerah lain di Negeri Indonesia. Bila karena bangun pagi anak sekolah akan terganggu secara psikologis sehingga secara tidak langsung menurunkan kualitas. Atau, catatan lain karena sekolah yang unggul dan favorit hanya terdapat di daerah tertentu? Apakah Jakarta patut dihargai sebagai barometer bila terlihat dengan jelas tidak ada pemerataan pendidikan? Jangan-jangan potret sekolah yang hampir rubuh, atau kesulitan dalam mengapai prestasi lebih tinggi oleh seorang anak, yang dibicarakan di berbagai media di beberapa daerah terjadi di Ibukota ini. Ehm ... semoga hal tersebut tidak terjadi. Mungkin saatnya berpikir ’tuk pemerataan pendidikan !!!

Balada Anak di Negeri Dongeng

Tersediakah Kemerdekaan Bagi Anak?

Anak merupakan generasi baru, tinggal bagaimana menciptakannya. Dalam mewujudkan hal tersebut, anak memiliki kewajiban dan juga hak dalam memperoleh kemerdekaan lebih. Baik dalam pendidikan maupun kreatifitas. Kemerdekaan sendiri merupakan sesuatu yang didambakan bagi siapapun, termasuk anak. Kemerdekaan yang diminta seorang anak sangatlah sederhana. Anak hanya meminta kebebasan, tentunya dengan perhatian penuh dari orang tua ataupun orang yang lebiih dituakan.
Akan tetapi, apakah kemerdekaan tersebut sudah diperoleh anak secara penuh? Maraknya trafficking, ekploitasi, buta aksara, sampai dengan kesulitan untuk memperoleh pendidikan dan hiburan yang bermutu menjadi problematik bagi anak. Realita menyedihkan bagi masyarakat, apalagi Indonesia secara jelas menyatakan melalui pembukaan UUD 1945 adanya tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menjadi Kenyataan atau Sekedar Dongeng

Beberapa waktu lalu penulis sempat mengamati indahnya permainan anak. Bila anak dalam masyarakat tertentu cenderung bersikap pasif dalam kreatifitas, terlebih dengan penyajian permainan yang segala instan. Berbeda dengan kelompok anak tertentu di daerah pedalaman dengan kesulitan memperoleh akses dari dunia luar. Tayangan laskar pelangi tidak hanya terdapat dalam tayangan film. Tetapi menjadi kenyataan, bagaimana indahnya anak bermain perosotan dengan menggunakan pelepah pisang. Ataupun bagaimana keriangan kelompok anak dengan bamboo. Insiatif dari bahan sederhana membuat anak lebih berpikir kritis dan banyak nilai positif yang tentunya diperoleh.

Bagaimana dengan hiburan yang sering dinikmati oleh anak? Hiburan yang sering kali dinikmati adalah televisi. Tidak hanya menjadi salah satu kesenangan, pemerolehan informasi, tetapi televisi secara sadar maupun tidak sadar merupakan sarana proses pembelajaran dari segala aspek. Tidak heran pemerintah secara khusus memiliki lembaga independen dalam mengamati tayangan televisi maupun film yang tampil di bioskop. Apakah tayangan yang ada sudah cocok bagi keperluan anak? Atau apakah masih ada tayangan yang baik untuk dinikmati anak?

Memprihatinkan memang kondisi dari hiburan sederhana dan murah yang hampir dimiliki setiap rumah. Disatu sisi penampilan ataupun ajakan dalam sebuah tayangan kadang menipu masyarakat. Ketika dari penampilan awal menarik untuk ditonton anak-anak, tetapi di dalam isi cerita banyak adegan berbahaya bahkan “syur” di dalamnya. Sebaliknya bila beberapa tayangan positif untuk anak. Namun disayangkan kutipan iklan ataupun selipan produk berbahaya bagi kepentingan dan pendewasaan anak secara tersendiri. Dari kenyataan tersebut, masih adakah kebebasan anak dalam hal sederhana memperoleh informasi? Apakah kemerdekaan anak dapat diperoleh dalam kehidupan sehari-hari atau hanya sekedar menjadi cerita dongeng?

Katakan Indonesia, Bukan ‘Indon’

Seorang anak tentunya tidak dapat dilahirkan, dalam kondisi proses memilih. Apakah dirinya akan menjadi anak dengan orang tua yang mapan, ataukah dirinya harus membantu kehidupan keluarga di tengah kehidupan ekonomi yang serba sulit. Termasuk juga membantu orang tua mencari makan, di Negara orang. Ketika dalam beranjak proses sebagai seorang anak, tentunya kaidah dalam diri, moral dan kebangsaan menjadi tugas utama. Bagaimana rasa nasionalis guru, orang tua dalam mengajarkan anak memupuk kebangsaan tersebut? Apakah dalam perjalanannya kebangsaan tersebut, telah terpupuk dalam jiwa anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI)?
Unari,Spd. merupakan salah satu guru yang diperbantukan sebagai pengajar untuk anak-anak TKI. Unari menyatakan walaupun dalam peraturan sebenarnya, anak tidak diperbolehkan mengikuti orang tuanya yang sedang bekerja menjadi TKI. Desakan ekonomi yang melanda dan tidak merata, akhirnya membuat mereka harus mengajak keluarga mereka untuk berada di Negara tetangga, Malaysia. Oleh karena itu muncul kebijakan dari pemerintah Indonesia dan Malaysia melalui lembaga sosial masyarakat HUMANA, yang mengurus proses pendidikan tersebut. Hal tersebut disatu sisi bertujuan untuk menjamin pendidikan warga Negara untuk memperoleh hal mendasar dalam pendidikan, yang sebagaimana telah diatur Undang-Undang Dasar 1945.
Nasionalisme Terbendung Realitas
“Mengajarkan rasa nasionalisme terhadap masyarakat Indonesia diluar, sangat jauh lebih sulit dibandingkan di Negara sendiri. Dimulai dari anggapan orang luar yang merendahkan Indonesia, dengan sebutan ‘Indon’, dan juga beberapa kenyataan di lapangan yang tidak terlalu merasakan perhatian penuh pemerintah pusat. Terlebih dengan keberadaan ekonomi yang terbelakang. Bila dilihat secara data 36 ribu anak TKI berada di Sabah – Malaysia,” kata Unari.
Ketidakseriusan dan berkurangnya rasa nasionalisme dari anak bangsa, juga berkaitan dengan kurangnya perhatian pendidikan, perlindungan anak dari kekerasan dan diskriminasi. Program yang dilakukan terkesan asal jadi dan tidak jelas keberlanjutannya. Aktivitas belajar anak TKI pun terkesan sekedarnya. Kelas dan ruang yang tersedia pun, hanya yang disediakan dari LSM di Malaysia. Belum lagi pelanggaran dan terkesan bisnis semata yang dilakukan LSM tersebut.
Anak-anak tersebut pun digambarkan oleh Unari, bagaimana harus membantu mengambil kelapa sawit. Bahkan dalam potret yang diberikan, secara jelas luka yang terpampang dalam tangan anak-anak TKI tersebut. Bagaimana nasionalisme terbentuk, dengan realitas tersebut?
Upacara di Dalam Kelas
Dalam proses pembelajaran, Unari menjelaskan kepada GOCARA bahwa semua kurikulum yang ada mengikuti Malaysia. Namun, ada satu bidang materi ajar yang ditambahkan, yaitu kajian tempatan. “Kajian tempatnya meliputi pelajaran yang diajarkan di Indonesia, misalkan Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, IPS, termasuk Agama di dalamnya. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan salah satunya diajarkan pencitraan terhadap bangsa Indonesia. Kesulitan yang ada sangat jauh dari nasionalisme, perlu waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kecintaan dan rasa tersebut. Itu juga yang dialami oleh para orang tua disana,” tambah Unari.
Selain kondisi masyarakat TKI disana, hal yang mengakibatkan kurangnya rasa nasionalisme, adalah memandang rendah yang dilakukan Malaysia terhadap Indonesia, termasuk menyebutkan Indonesia dengan sebutan ‘Indon’, dan memandang masyarakat Indonesia tidak ada apa-apanya. Dari hal tersebut akhirnya menular pada masyarakat Indonesia, termasuk anak-anak. “Sehingga untuk masuk kedalam anak-anak dan masyarakat Indonesia, sangat susah sekali. Karena mereka sudah terdogma selama beberapa puluh tahun,” tutur Unari.
Sebagai seorang guru, tentunya ada metode yang disampaikan untuk memupuk rasa nasionalisme. “Usaha yang kami lakukan, misal pada peristiwa atau peringatan besar. Kami guru-guru sudah mencoba menyampaikan baik dengan ceramah dari pengertian Indonesia, seperti: jangan menyebut kata ‘Indon’, tapi sebut dengan lengkap kata Indonesia. Untuk para siswa, kami juga melihatkan gambar peta besar yang mengambarkan keluasan dan kekayaan yang dimiliki Indonesia,” kata Unari, yang menjadi guru honorer di Malaysia dari tahun 2006 sampai dengan 2008. Dengan penjelasan tersebut, anak-anak cenderung sudah mulai berubah.
Dari acara 17 Agustus yang biasa diperingati oleh dengan upacara bendera bersama-sama di Indonesia, sebagai hari kemerdekaan. Sangat sulit untuk dilakukan di Malaysia. Sehingga perayaan kemerdekaan tanpa pengibaran bendera, menjadi pilihan alternatif. “Ada juga peristiwa lucu dan ironis yang terjadi. Pengibaran bendera terpaksa dilakukan di dalam kelas dengan menggunakan tiang setinggi dua meter yang langsung ditancapkan begitu saja. Merinding sekali pada saat proses saat tersebut,” tambah Unari yang ditugaskan 6 sekolah saat itu.
Unari mengharapkan proses kedepan dalam proses nasionalisme bangsa, terutama untuk masyarakat tertinggal tempat dirinya bertugas, ada perhatian tersendiri dan khusus. Perhatian tersebut tidak hanya diberikan pada anak dengan strata ekonomi menengah melainkan juga pada ekonomi sulit. Salah satu contoh bagaimana pemerintah Indonesia hanya membuat sekolah di daerah Sinabalu – Malaysia. Anak yang dapat mengakses pendidikan disana hanyalah menengah keatas. Terlebih jarak yang jauh dengan masyarakat yang dalam keadaan tertinggal. “Masyarakat yang di grassroot, saat ini sama sekali tidak tersentuh,” tambah Unari yang saat ini bertugas di daerah Kalimantan Barat dan masih menjadi calon PNS setelah beberapa lama ditugaskan. (Agustinus)

Rabu, 13 Oktober 2010

Kontrak Politik Pendidikan

Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan. Boleh dikatakan, pendidikan menjadi kebutuhan primer terpenting dari setiap dasar manusia. Hal tersebut seolah menjadi pembicaraan yang selalu berulang. Terlebih pada pemilu 2009. Beberapa partai seolah mengagungkan kenaikan anggaran pendidikan 20%. Walaupun bila menilik kebelakang, program tersebut sudah dicanangkan oleh pejabat legislatif beberapa tahun silam. Bahkan pelaksanaan 20% pendidikan, bukan sekedar untuk pembangunan pendidikan seutuhnya, tetapi hal-hal yang seharusnya diluar 20% menjadi bagian dari APBN tersebut.

Kenaikan anggaran pendidikan, ternyata tidak menguntungkan bagi masyarakat seutuhnya. Karena dalam isu yang berkembang di masyarakat, untuk mencapai anggaran pendidikan tersebut harus mengorbankan masyarakat sendiri. Salah satunya adalah dengan kenaikan pajak beberapa persen. Lalu bagaimana dengan gambaran pendidikan di Indonesia saat ini? Dari kalangan pemerhati pendidikan, beberapa kebijakan seolah menuai protes dari beberapa sisi. Dalam keadaan di lapangan, bisa dikatakan semakin banyak anak-anak yang harus mencari nafkah di jalanan. Secara jelas hal tersebut membahayakan mereka secara pribadi, dari tanggung jawab anak-anak tersebut merupakan usia sekolah yang harus mendapat pengajaran utuh dari sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Bahkan melihat sekolah rusak yang ada,sangat miris melihat fakta yang ada di sekitar kita. Pertanyaannya adalah bukan siapa yang bisa mencari sekolah dengan kondisi memprihatinkan? Tetapi, siapa yang tidak bisa mencari sekolah dengan kondisi memprihatinkan? Hal tersebut juga dijumpai di kota-kota besar.

Legislatif Baru, Permasalahan Baru atau Solusi Baru

Pergantian anggota legislatif tinggal menghitung hari, pemilihannya pun akan dilaksanakan pada 9 April 2009. Harapan dalam penciptaan solusi dari permasalahan dasar menjadi sesuatu yang diharapkan. Terlebih dunia pendidikan. Beberapa janji atau keadaan yang seolah menjadi nyata, dikumandangkan dalam kampanye partai politik.

Keberadaan dunia pendidikan, menjadi hal terpenting dalam dalam era kedepan. Oleh karena itu, beberapa lembaga pendidikan mulai mengadakan janji-janji atau lebih terkenal dengan sebutan Kontrak Politik Pendidikan (KPP). Tujuan dasar dalam sebuah kontrak tersebut, tidak lain tidak bukan adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kualitas yang mana? Tentunya kualitas segenap bangsa, bukan hanya untuk segelintir orang yang mampu atau mempunyai keberadaan uang lebih.

KPP pada pelaksanaanya turut melibatkan banyak pihak di dalamnya, tidak hanya perseorangan. Tetapi tentunya juga melibatkan partai bersangkutan, dan juga koalisi partai atau fraksi yang dibangun setelah sebuah partai masuk dalam kompleks Senayan. Sehingga KPP menjadi pertanyaan mendasar dalam pembangunan pendidikan. Mampukah KPP tersebut menjadi jawaban dari janji mereka? Ataukah hanya sekedar menjadi angin lalu untuk memperbesar perolehan suara? Bagaimana dengan pemilih yang mempunyai hak memilih? Dibutuhkan tanggung jawab dari pemilih, agar pendidikan tidak hanya menjadi permasalahan klasik yang terus berkepanjangan.

PENTINGNYA PERPUSTAKAAN KELILING

Menjelajah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan Ilmu Pengetahuan dengan menggunakan kendaraan sederhana. Keberadaanya mungkin dilupakan dengan kemegahan mall Ibukota, namun masih banyak diminati dan dicari orang banyak. Hal itulah yang tergambar ketika GOCARA mengunjungi perpustakaan keliling langsung ke tempat dimana mereka sedang bertugas di tempat sekolah didaerah tanjung duren, Jakarta Barat. Dengan mobil perpustakaan keliling Rusman Panjaitan melakukan tugasnya sehari-hari untuk membagikan ilmu yang ada dalam 600 buku yang dibawanya setiap kali melakukan perjalanan.

Rusman yang juga selaku koordinator perpustakaan keliling dan telah bertugas sejak tahun 1985 tersebut mengatakan, perpustakaan keliling merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan oleh segala lapisan masyarakat. Terbukti dalam beberapa bulan akhir permintaan akan buku-buku dalam perpustakaan keliling sangat banyak. Sehingga dengan armada yang terbatas dengan jumlah 4 mobil di jakarta barat, perpustakaan keliling hanya mampu untuk ke tempat area yang sama dengan waktu 1 bulan sekali. Sasaran dari perpustakaan keliling diantaranya adalah ke sekolah yang tidak memiliki perpustakaan sendiri, rumah singgah, rumah kumuh, tempat anak-anak jalanan, kelurahan juga kecamatan yang sebelumnya telah terjadwal dan terdaftar di kantor perpustakaan umum. Buku yang dibawa dalam terdiri dari segala lapisan umur seperti buku TK,SD,SMP,SMU, Perguruan Tinggi, tabloid, majalah masak dan yang lainnya. Buku yang dibawa oleh perpustakaan keliling pun selalu berganti setiap bulannya kecuali ada pemesanan dari anggota pembaca perpustakaan keliling.

Kebutuhan dan minat akan ilmu pengetahuan terhadap buku terlebih pada sanggar atau tempat anak-anak jalanan sangatlah tinggi. Karena kebutuhan akan ilmu pengetahuan belum tentu dapat mereka wujudkan dengan membeli buku yang tersedia di toko buku di agen-ageN tepi jalan, pasar loak ataupun pada toko buku dengan ruangan ber-AC dan seperti suasana cafe. Hal itulah yang mendorong di samping alasan-alasan lain selalu ramainya perpustakaan keliling untuk diminati orang banyak.

Perpustakaan keliling memiliki jam operasional yaitu pada pukul 07.30 – 12.00 di satu lokasi dan 12.00 – 15.00 di lokasi yang berbeda. Hal tersebut menurut Rusman bergantung pada lokasi dimana perpustakaan keliling bertugas, bila di suatu sekolah ada sekolah pagi dan siang maka dari pukul 07.30 – 15.00 perpustakaan keliling harus menunggu sampai waktu yang ditentukan. Nomadennya perpustakaan keliling sehingga menyulitkan bagi pembaca atau peminat yang ingin membaca buku dari perpustakaan keliling. Sistem peminjaman dalam perpustakaan keliling, seorang calon anggota sebelumnya harus membawa KTP, kartu keluarga, juga pengisian formulir dari pihak perpustakaan keliling. Lalu calon anggota dapat meminjam setelah kartu anggota yang diminta telah selesai diurus. Kemudian anggota bisa meminjam, dan secara otomatis anggota juga terdaftar di perpustakaan umum tempat kantor wilayah perpustakaan keliling tersebut bertugas.

Dalam melakukan proses peminjaman, anggota tidak dipunggut biaya. Selain itu juga dapat melakukan aktifitas yang lainnya sama seperti ketika seorang anggota telah terdaftar dalam suatu perpustakaan. Hal tersebut juga berlaku jika seorang anggota melakukan peminjaman buku lalu telat dalam pengembaliannya. Anggota perpustakaan keliling diberikan waktu sampai dengan 3 kali secara periodik saat perpustakaan keliling mengunjungi tempat tersebut. Jika pada masa itu belum juga dikembalikan. Bila peminjaman dilakukan di sekolah maka pihak perpustakaan keliling akan meminta dari Kepala Sekolah yang bersangkutan. Bila dalam masyarakat sekitar yang meminjamnya, maka akan dicari melalui alamat yang terdaftar ataupun melalui teman yang biasa melihat buku dari perpustakaan keliling.

Perpustakaan keliling sekitar tahun ’80an , bila yang meminjam harus meninggalkan uang jaminan namun kebijakan tersebut telah dicabut oleh Gubernur yang menjabat pada saat itu. Seorang anggota juga dapat memesan buku yang pada saat itu tidak ada dalam perpustakaan keliling. Buku tersebut akan dibawa ketika perpustakaan keliling kembali lagi dalam periodik tertentu. Bila seorang anggota perlu meminjam buku secara cepat dan kebetulan mobil perpustakaan keliling masih beberapa minggu atau hari ke tempat lokasi yang sama maka anggota dapat meminjam di perpustakaan umum asalkan pengembalian dilakukan pada tempat anggota meminjam buku tersebut.

Timbul harapan dari peminat buku dimana mereka menikmatinya agar perpustakaan keliling tidak harus muter begitu lama sampai dengan waktu 1 bulan karena pentingnya ilmu. Dan buku harus terus menerus dikonsumsi untuk memperkaya ilmu pengetahuan yang ada. Agar kesetaraan informasi dapat dinikmati semua orang tanpa menunggu proses yang lama. Semoga terwujud dan informasi bisa didapatkan !!!
(AGS)

MATEMATIKA DENGAN ”MOMOK” MENYERAMKAN

”Nak, ini uang saku kamu dalam sehari. Setengahnya untuk makan, setengahnya untuk bayar uang kas kelas yah?” Ini adalah bentuk sederhana matematika dalam hal yang sederhana. Matematika merupakan sesuatu hal yang sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dalam kehidupan. Dimulai dari seorang anak belum bersekolah atau ikutan pergi berbelanja bersama orang tua, belajar berhitung dan mulai asyik mengerjakan soal suatu bakat dan talenta matematika akan keliatan secara sendirinya.Dari kehidupan masa kecil itulah seorang anak biasa diperkenalkan matematika oleh orang tua atau orang yang lebih dewasa dengan cara berhitung biasa, memakai sempoa, perkalian dengan menggunakan 2 tangan dengan jarinya untuk mendapatkan hasil dari perkalian diatas angka 5 dan dibawah angka 10, memakai turus dalam suatu penjumlahan, serta masih banyak cara lain dalam memperkenalkan matematika dasar yang nantinya akan lebih berkembang dan dikembangkan dalam segala bentuk.

Matematika selain berlaku dalam kehidupan sehari-hari, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang manjadi pokok dalam kurikulum sekolah. Dalam evaluasi hasil belajar siswa, Matematika juga diujikan pada UAN yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk SD,SMP,STM,SMK dan SMU jurusan IPA. Selain itu Matematika di berbagai negara manapun memakai logika dan berlaku sama, berbeda dengan Ekonomi karena kebijakan ekonomi di berbagai negara berbeda-beda dengan kondisi yang ada dan hanya berlaku pada teori yang ada.

Matematika menurut Ibu Dra. Kumalasari Maria Emanuel sebagai salah satu guru yang mampu melahirkan juara olimpiade, nasional Matematika di SMUK 1 BPK Penabur dan pernah mengajar di SMU Sedes Sapintae di kota Semarang, matematika merupakan salah satu bentuk keseimbangan antara otak kiri dengan otak kanan. Karena matematika merupakan Logical Thinking yang membutuhkan kekreatifan seorang siswa dalam menangapi suatu soal dan kemampuan mengerjakan soal yang ada. Bukan sebagai pelarian atas murid yang tidak senang karena hafalan. Karena ada ungkapan siswa/i yang mengambil jurusan IPA adalah orang-orang yang tidak bisa atau malas untuk menghafal. Dalam perjalanan menapaki pendidikan dari TK sampai SMU/SMK/STM seorang siswa seharusnya bisa melihat dimana kemampuan dirinya, apakah dibidang seni, musik atau lebih mampu dalam menghafal sesuatu hal. Dari hal tersebut akan terlihat otak mana yang lebih berkembang dalam diri seorang anak. Siswa/i tidak bisa dipaksakan dalam memahami pelajaran matematika yang ada, siswa/i harus diajak untuk enjoy dalam mengerjakan suatu soal yang ada dalam bentuk studi kasus atau soal yang disajikan. Sehingga diharapkan adanya kreatifitas dalam memecahkan soal dari siswa sendiri, dan tidak harus baku dengan cara yang disajikan oleh guru pengajar. Karena dengan cara yang berbeda baik didapat dari siswa sendiri maupun cara lain seperti Guru les, siswa akan bisa terlihat lebih mudah mengerjakan soal.

Dilihat dari sudut pandang sebagai pengajar, Ibu Kumala mengatakan dalam matematika titik pengajar sebagai contoh untuk anak yang diajar sangatlah penting. Bagaimana seorang guru mampu mengajar dalam bentuk yang menyenangkan bagi siswa/i –nya? (dilihat tempat dan keadaan tempat mereka mengajar). Bagaimana Guru mampu menjadi motivator dan teladan bagi siswa/i baik dalam proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) maupun kegiatan diluar KBM. Serta mampu menghargai usaha dan jerih payah dari siswa/i dalam mengerjakan soal yang diberikan (Berapa langkah siswa/i mampu mengerjakan soal yang ada) dengan melihat cara menjawab yang dilakukan oleh siswa/i tersebut ataupun dengan cara membagikan hasil ulangan tepat waktu dengan membahasnya sehingga mampu menjadi proses evaluasi bersama hasil belajar siswa. Seringkali pengajar dalam hal ini Guru memvonis jawaban dengan mengatakan cara yang dilakukan siswa/i -nya salah karena tidak sesuai dengan cara yang ada dalam buku atau yang diberikan pada saat guru itu mengajar. Lalu mengatakan anak muridnya tidak mampu dalam mengerjakan matematika tersebut, sehingga hal tersebut mematikan usaha dari siswa/i tersebut padahal kreatifitas mereka atau cara singkat mereka dalam mengerjakan suatu soal sudah keluar. Vonis seperti ini sering diungkapkan oleh pengajar sehingga kadang mematikan kemampuan dari seorang siswa. Bagaimana bisa seorang anak tertarik dan bisa mengerjakan matematika bila selalu dikatakan demikian? Seorang pengajar bila memberikan soal biasanya dibuat dalam 3 tingkatan soal (Intermediated, Beginner, Advanced) untuk mengetahui sejauh mana kemampuan menjawab soal dari anak tersebut. Sehingga seorang Guru harus bisa memecahkan persoalan bagaimana siswa/i –nya mampu mengerti bagaimana memecahkan soal dan mereka merasa enjoy dengan mata pelajaran tersebut,termasuk uji coba dari beberapa soal yang ada.

Mengapa orang tertarik dengan Matematika, padahal matematika selalu identik dengan mata pelajaran yang selalu membuat pusing apalagi setelah ujian? Menurut Cyrilla alumnus mahasiwa UNPAD jurusan Matematika, Matematika merupakan pelajaran yang memakai logika dan bila kita sudah mengerti asal usul rumus kita akan dapat paham mengenai suatu logika. Ada juga pendapat dari Lia (Mahasiswa atmajaya angkatan 2003) dan Olivia (siswa SMU Sang Timur) yang berperinsip bahwa matematika merupakan ilmu pasti seperti pada soal yang hanya memiliki satu jawaban saja walaupun dengan beberapa cara. Mungkin itulah pendapat tentang Matematika, tanpa disadari dengan sendirinya. Mata pelajaran ini sangat sering diketemui dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam ketertarikan dengan mata pelajaran matematika, sekolah punya trik sendiri untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswa/i – nya. Seperti di sekolah SMAK 1 BPK Penabur yang mampu melahirkan juara – juara tingkat Nasional, Asia Pasifik,maupun tingkat Dunia, punya trik tersendiri untuk meningkatkan kualitas siswa/i –nya seperti pada proses KBM seorang siswa akan dituntut kerajinannya dalam menjalankan tugas, maupun mengerjakan ulangan yang ada. Bahkan menurut Kepala Sekolah mata pelajaran MIPA dalam hal ini termasuk juga dengan mata pelajaran Matematika diajarkan dengan menggunakan bahasa Inggris dengan porsi 30%. Selain itu dengan fasilitas LCD di tiap kelas mereka menggunakan pendekatan mata pelajaran Matematika dengan visual yang ditampilkan pada tiap kelas. Selain itu mereka punya kegiatan ekstra kurikuler Science Club yang dikepalai langsung oleh Guru SMAK 1 BPK Penabur dan diikuti juga oleh sekolah yang berada di bawah Yayasan BPK Penabur yang berjumlah 7 sekolah. Selain itu juga keaktifan dengan dukungan sekolah dalam keikutsertaan siswa/i berlomba dalam kompetisi baik lokal maupun internasional. Lalu bagaimana dengan kita menanggapi dan mengkritisi Matematika? Apakah matematika masih menjadi pelajaran yang menyeramkan? Ehm... mungkin saatnya insan pendidikan terus berproses belajar Quo Vadis .

Museum Kebangkitan Nasional, Tempat Wisata Ilmu

Pernah tahu Fakultas Kedokteran UI yang ada di Salemba...??? Rasanya belum lengkap, bila belum pergi ke Museum Kebangkitan Nasional. Di Museum ini secara kita bisa belajar secara lengkap dengan histori, awal mula sejarah pendidikan Indonesia dimulai.. Ditambah lagi tentang sejarah Budi Utomo Kebudayaan Nasional

Museum dalam pemahaman masyarakat sehari-hari, kadang diidentikkan dengan penyimpanan benda kuno, atau tempat untuk mengenang hal-hal dimasa lalu. Keberadaan Museum-pun mulai dipertanyakan, karena kurangnya ketertarikan masyarakat. Beberapa masyarakat, didominasi masyarakat muda (pelajar, mahasiswa,ataupun peneliti) pergi ke Museum, karena ada suatu kegiatan baik berbentuk tugas maupun observasi, yang harus dilakukan. Bagaimana kesadaran masyarakat secara umum? Hal tersebut menjadi tugas dari pemerintah, juga segala lapisan masyarakat.

Museum berdasarkan definisi ICOM (The International Council of Museum), yaitu sebuah badan (lembaga) tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat, dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang bertugas untuk menghimpun, merawat, meneliti dan menyajikan untuk kepentingan studi (pendidikan), penikmatan (kesenangan) setiap barang (benda) sebagai pembuktian barang material manusia dan lingkungannya. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah RI tahun 1995, dijelaskan tentang fungsi Museum, adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Dilihat dari fungsi kegunaan ketika masa lalu, Museum Kebangkitan Nasional yang terletak di Jl. Dr Abdul Rahman Saleh, No.26,Jakarta Pusat, merupakan tempat yang pernah digunakan untuk Sekolah kedokteran Bumi Putra atau lebih dikenal dengan sebutan STOVIA (School Tot Van Inlandsche Artsen). Keberadaan sejarah Museum juga sangat kental dengan awal pendidikan bangsa Indonesia. Hal tersebut dipertegas Drs. Isnudi, sebagai salah satu dari 50 karyawan di Museum Kebangkitan Nasional.

STOVIA berdiri tahun 1899, keberadaannya digunakan untuk pendidikan kedokteran tahun 1902 sampai 1925 (serta mengawali terjadinya Boedi Oetomo yang didirikan pelajar STOVIA). Pendidikan STOVIA menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran (oleh karena itu, Museum Kebangkitan Nasional digunakan Fakultas Kedokteran UI sebagai tempat ajar oleh mahasiswa baru). Tahun 1926 sampai 1942 dipergunakan untuk pendidikan MULO (SMP) dan AMS (SMA), serta sekolah Asisten Apoteker. Masa pendudukan Jepang tahun 1942 -1945 gedung STOVIA dipergunakan untuk menampun para tawanan Belanda. Pasca kemerdekaan 1945-1973 dihuni oleh bekas keluarga tentara Belanda dan masyarakat Ambon. Kemudian tahun 1973 -1874, karena dinilai memiliki nilai sejarah. Maka, keberadaan gedung dipugar dan dikelola oleh pemerintah DKI Jakarta, kemudian tahun 1983 dijadikanlah gedung STOVIA sebagai Museum Kebangkitan Nasional.

Saat masuk Museum, pengunjung hanya dikenakan biaya Rp.100,00 – Rp. 250,00 (rombongan) atau Rp. 250,00 – Rp.750,00 (perorangan). Pengunjung pertama kali dapat melihat ruang I, disebut Ruang Pengenalan (berisi garis besar yang dapat diketemui, dan fungsi ruangan). Kemudian pengunjung diajak masuk ke ruang II,disebut Ruang Pergerakan Nasional (berisi awal masuknya penjajahan asing masuk Indonesia dengan keadaan Indonesia saat itu), Ruang III, disebut Ruang Awal Kesadaran Nasional (berisi kesadaran nasional dengan lahirnya Boedi Oetomo. Ruangan ini juga berisi koleksi yang berhubungan pendidikan dan kesehatan (kedokteran)). Ruang IV,disebut Ruang Pergerakan Nasional (berisi mengenai berdirinya Boedi Oetomo sampai dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Didalamnya terdiri dari ruang memorial Budi Utomo, ruang peragaan persidangan Pembelaan Dr.H.F.Roll, ruang peragaan kelas kedokteran STOVIA, dan ruang peragaan kelas Kartini.

Ehmm...., mungkin asyik bagi kita berwisata di tempat sejarah. Kalo bukan kita, siapa lagi yang mencintai negeri ini.
(Agustinus)